Belajar sering kali dipersempit maknanya sebagai aktivitas di ruang kelas, mengikuti pelatihan, atau memperoleh ijazah. Padahal, esensi sejati dari belajar—baik formal, informal, maupun melalui pengalaman hidup—terletak pada kemampuan seseorang dalam menyelesaikan masalah (problem solving). Tanpa kemampuan ini, belajar hanya berhenti pada tataran pengetahuan, belum bertransformasi menjadi kebijaksanaan dan keterampilan hidup.
Problem solving merupakan indikator paling konkret bahwa proses belajar telah memberi dampak nyata bagi individu.
Belajar: Formal, Informal, dan Pengalaman
Proses belajar berlangsung dalam berbagai jalur:
Belajar formal, seperti pendidikan sekolah dan perguruan tinggi, memberikan kerangka berpikir sistematis, konsep, dan teori.
Belajar informal, melalui diskusi, membaca, komunitas, dan interaksi sosial, memperkaya sudut pandang serta cara memaknai persoalan.
Belajar dari pengalaman, sering kali menjadi guru paling efektif karena berhadapan langsung dengan realitas, kegagalan, dan konsekuensi nyata.
Ketiga jalur ini saling melengkapi dan bermuara pada satu tujuan utama: membekali individu agar mampu menghadapi dan menyelesaikan masalah kehidupan secara lebih bijak dan efektif.
Problem Solving sebagai Buah Pembelajaran
Kemampuan problem solving tidak muncul secara instan, melainkan terbentuk melalui proses belajar yang berkelanjutan. Seseorang yang belajar akan:
Mampu mengidentifikasi masalah secara tepat.
Mengaitkan pengalaman masa lalu dengan situasi baru.
Menggunakan pengetahuan untuk merumuskan alternatif solusi.
Mengambil keputusan dengan pertimbangan rasional dan nilai moral.
Dengan kata lain, problem solving adalah hasil internalisasi pengetahuan dan pengalaman, bukan sekadar hafalan atau prosedur mekanis.
Peran Refleksi dalam Problem Solving
Belajar yang berdampak selalu melibatkan refleksi. Melalui refleksi, individu meninjau ulang:
Apa yang telah terjadi,
Mengapa hal tersebut terjadi,
Apa yang bisa diperbaiki di masa depan.
Refleksi menjadikan problem solving tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga bermakna dan berkelanjutan. Pengalaman gagal, ketika direfleksikan, justru memperkuat kapasitas seseorang dalam menghadapi masalah yang lebih kompleks.
Problem Solving dalam Kehidupan Nyata
Hal ini menunjukkan bahwa kualitas belajar seseorang dapat diukur dari kualitas solusi yang dihasilkannya.
Implikasi bagi Budaya Belajar
Jika belajar dimaknai sebagai proses membangun kemampuan problem solving, maka budaya belajar perlu diarahkan pada:
Pembelajaran berbasis masalah (problem-based learning),
Ruang aman untuk mencoba dan gagal,
Penguatan refleksi dan pembelajaran dari pengalaman.
Belajar tidak lagi sekadar mengejar nilai atau sertifikat, melainkan membentuk individu yang tangguh menghadapi realitas kehidupan.
Problem solving adalah dampak nyata dari proses belajar yang utuh. Ketika belajar dilakukan secara sadar, reflektif, dan berkelanjutan—baik melalui pendidikan formal, pembelajaran informal, maupun pengalaman hidup—maka individu tidak hanya menjadi lebih tahu, tetapi menjadi lebih mampu. Pada akhirnya, belajar sejati adalah belajar untuk menyelesaikan masalah kehidupan dengan lebih arif dan bertanggung jawab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar