Kamis, 22 Januari 2026

Stasiun yang Terlewat

Kereta itu melaju tenang di antara pagi yang masih setengah mengantuk. Di salah satu kursi, seorang penumpang paruh baya duduk sambil menahan lelah. Matanya berat, semalaman ia belum benar-benar beristirahat. Sebelum memejamkan mata, ia menoleh pada penumpang di sebelahnya.

“Mas, kalau nanti sampai Stasiun Tugu, tolong bangunkan saya, ya,” pintanya sopan.

Penumpang di sebelahnya mengangguk sambil tersenyum. “Siap, Pak.”

Kereta terus melaju. Suara rel yang berirama justru membuat kantuk semakin dalam. Tak lama, bukan hanya penumpang paruh baya itu yang terlelap, penumpang di sebelahnya pun ikut tertidur pulas.

Tanpa disadari, kereta berhenti di Stasiun Tugu. Pintu terbuka, penumpang naik dan turun, lalu tertutup kembali. Tak ada yang terbangun.

Beberapa menit kemudian, pengumuman kembali terdengar, menyebutkan nama stasiun berikutnya. Penumpang paruh baya terbangun dengan wajah terkejut. Ia melihat papan nama di peron yang asing baginya.

“Waduh… kebablasan,” gumamnya lirih.

Ia menoleh ke samping. Penumpang yang tadi dimintai tolong pun baru saja terbangun, sama-sama kebingungan. Tak ada yang bisa disalahkan. Mereka hanya saling tersenyum kecut.

Dengan langkah pelan, penumpang paruh baya turun di stasiun yang bukan tujuannya. Ia menarik napas panjang, lalu tersenyum pada dirinya sendiri. Ada pelajaran yang baru saja ia pahami.

Dalam perjalanan hidup, meminta tolong itu wajar. Namun menggantungkan sepenuhnya tanggung jawab pada orang lain adalah sebuah kelalaian. Sebab setiap tujuan, setiap pilihan, dan setiap konsekuensi—pada akhirnya—harus kita tanggung sendiri.

Kereta boleh saja melaju terlalu jauh. Tapi hikmah tak pernah benar-benar salah tujuan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar